Edisi Cerpen
KISAHKU BERSAMA COCO
Taman
bunga kampus adalah “special place” bagiku. Karena di sinilah aku bertemu
dengan sosok pria yang aku cintai, Rico. Hmm.. Indah benar-benar sangat indah
saat momen itu ku putar kembali. Ya, ketika Rico menyatakan cinta kepadaku.
Memang, awal aku bertemu dengannya getaran-getaran cinta di hatiku telah ada.
Karena senyuman manisnya yang selalu muncul di dalam benakku.
Hingga, kini aku tak perlu gelisah untuk memikirkan
apakah saat ini dia sudah punya pacar atau bagaimana agar dia tahu perasaanku.
Karena dia telah menunjukkan perasaannya kepadaku, dia milikku. Walaupun tidak
menjadi milikku seutuhnya.
Tuuiitt.. Tuuiitt.. (suara hp pertanda 1 pesan dari Rico)
"Morning Anda. Ayo
bangun, waktunya sholat subuh.Abis itu kuliah deh..Gak mau telat,kan?”
“Aduh.. Rajin
banget nih cowo’ bangunin orang pagi-pagi banget. Kuliah jam 8 banguninnya jam
5. Lagian gue udah sholat subuh juga. Hadeh..” gerutuku.
Di kampus ..
“Nanda, entar ikut gak nih ?” tanya Erika.
“Ikut kemana ?”
“Shopping dong.”
“Males ah. Mending loe aja sono. Gue lagi krisis banget
nih. Emang mau loe bayarin?”
“Iiddihh. Minta gratisan. Gue gak lagi ulang tahun kali
Nda”
“Pelit banget sih.”
“Ya nggak gitu Nda. Masa’ sama sobat sendiri gue harus
pelit.”
“Terus ?”
“Orang gue ke mol cuma mau numpang beli sampo sekalian
lihat-lihat sepatu sih. Kan kalau loe yang belanja banyak, gak malu-maluin
gitulah. Coba loe bayangin kalau kita ke mol cuma buat beli sampo.”
“Yee.. Judulnya bukan ngajakin shopping tapi ngajakin
beli sampo dan temen sendiri yang jadi korban.“
“Judul apaan tuh panjang bener. Perasaan judul novel gak
panjang-panjang amat walaupun isinya berlembar-lembar.”
“ Ya udah gue ganti jadinya biar gak malu-maluin”
“Haha ada-ada aja sih loe. Oh ya Nda loe di cari Rico
tuh. Tadi katanya di tunggu di taman.”
“Masa’ sih ? Tumben jam segini udah stand by di sono.”
“Ciiee.. Kangen kale sama loe.”
“Hmm..”(Aku pun segera bergegas menuju taman kampus)
Di
taman kampus..
“Hai
Anda..”
“Hai
juga. Tumben jam segini udah di taman.” (sambil duduk di samping Rico)
“Iya
dong abisnya dosen fisika sakit jadi gak diajar deh.”
“Oh.
Tapi masa’ gak ada tugas bikin skripsi atau apa gitu.”
“Ada
sih, santai aja tadi udah di kasih kok. Jadi, kita sama-sama sibuk kan ?”
“Iya
nih. Aku juga bikin skripsi kimia belum kelar-kelar. Bantuin ya Coco ?”
“Oke
deh. Kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu Anda.” (sambil cubit pipi Anda)
“Oke.
Ntar kalau kamu bikin skripsi fisikanya belum selesai pasti aku bantuin nyari
referensi. Syaratnya gak boleh nyubit pipi lagi.”
“Abis
kamu ngegemesin haha.”
“Ya
udah gak jadi dibantuin”
“Iya
deh. Maaf maaf hehe”
Beginilah aktivitasku dengan Coco (panggilan dariku untuk
Rico). Setiap ada waktu luang kami selalu ke taman kampus. Di sini, kami
sharing-sharing tentang kejadian yang kami alami di kampus, di rumah dan di
mana-mana. Bahkan tidak jarang aku meminta Rico untuk membantu mengerjakan
tugas. Di sini memang tempat yang paling berkesan buatku.
Karena sifat Rico yang baik dan nggak neko-neko bikin aku
betah sama dia. Aku dan Rico sudah berpacaran selama 3 tahun. Namun akhir-akhir
ini sikap Rico ada yang aneh. Dia agak cuek kepadaku.
“Erika, Rico tuh sekarang agak cuek.”
“Ah.. Masa’ sih.. Setahu gue hubungan loe baik-baik aja
deh.”
“Apa Rico suka sama cewe’ lain ya Rik ?”
“Masa’ sih Nda, jangan mikir negatif gitu dong. Selidiki
aja dulu !”
Awal penyelidikanku, aku pun bertanya kepada sahabat
Rico, Doni.
“Rico ? Biasa aja tuh Nda, menurut gue gak ada yang beda
sama dia. Malah Rico bilang ke gue kalau dia sayang banget sama loe.”
“Masa’ sih.. Tapi gue ngerasa akhir-akhir ini ada yang
aneh sama dia.”
“Nggak ada Nda. Perasaan loe aja kali Nda. Gue tuh kenal
banget sama Rico. Dia orangnya gak mau neko-neko Nda. Mmm, atau gini aja deh.
Gue bantuin loe buat cari tau kebenarannya.”
“Beneran ya.. Makasih Don.. Baik banget sih loe.”
“Iya donk. Buat sahabat apa sih yang nggak.“
Hari demi hari berlalu. Sikap Rico semakin terlihat aneh.
Dia jarang sms aku. Bahkan dia pun jarang ke kampus. Itu pun membuatku sangat
sulit untuku bertemu dengannya. Walaupun lewat akun facebook kami bisa
berkomunikasi, namun setiap aku bertanya mengapa dia tidak pernah menemuiku di
kampus, dia selalu mengalihkan pembicaraan. Pernah aku marah dan tidak membalas
chattingannya di facebook gara-gara hal itu. Tapi, dia selalu sabar dan telaten
mengirim pesan ke akun facebookku agar aku tidak marah kepadanya.
Malam ini malam minggu ...
Tuuiitt.. Tuuiiittt (1 massage dari Coco)
v “Anda sayang .. Coco besok pengen
pergi ke rumah papa mama.. Udah kangen banget nih sama papa mama.. Oh ya maaf
gak ngajakin soalnya darurat banget nih.. Apalagi kamu kan lagi sibuk sama
tugas skripsi, jadi gak mau ganggu dulu.. Dan skripsi kimia udah aku titipin ke
Doni, minta aja sama dia. Good luck buat presentasi besok. Bye Anda J CoLA (Coco Love Anda) J”
v “Iya Coco.. Hati-hati ya.. J ALCo (Anda Love Coco) J” (membalas
sms Rico)
Keesokan
harinya di kampus ..
“Eh
Don, skripsi gue mana ?”
“Oh
iya. Ini” (memberikan skripsi)
“Oh
ya Don, Rico pamit mau ke rumah orang tuanya lho. Elo tau kan ?”
“Iya
gue tau kok”
“Terus
gimana penyelidikan elo tentang dia.”
“Sukses. Dia masih setia.”
“Beneran ? Ngomong-ngomong rumah orang tuanya di mana sih
Don ?”
“Iya. Suwer deh. Hehe jauh Nda.”
“Jauh itu di mana ?”
“Ada deh.”
“Nyebelin banget sih. Ya udah gue ke sono dulu deh. Males
gue sama elo.”
“Eits. Titip salam buat Erika ya. Bilang salam kangen
dari Didi gitu ya ?”
“Ha ? Sejak kapan nama loe jadi Didi ?”
“Sejak hari ini. Biar romantis kaya loe sama Rico. Haha..
Ya Nda pliisss”
“Mmm.. Ada deh hehe”
1 bulan sudah aku menjalani hubungan dengan Rico tanpa
bertatap muka, tanpa sms atau pun telepon. Hanya lewat facebook kami bisa
komunikasi. Terakhir kali dia sms aku, ya mau pamitan ke rumah orang tuanya.
Nomernya gak pernah aktif. Kalau tanya Doni, pasti jawabnya..
”Gak
tau.. Dia lagi konsentrasi sama orang tuanya mungkin. Atau dia lagi refreshing
ke mana gitu terus lupa buat ngisi pulsa jadi terblokir deh kartunya.”
“Emang
ada ya kaya’ gitu. Hmm alasan basi loe Don.”
Akhirnya,
aku putuskan hari ini juga ke tempat kos Rico. Di sana aku bertemu dengan ibu
kos yang kebetulan lewat di depanku. Namun, ibu kos berkata bahwa Rico pulang
ke rumahnya. Akhirnya aku minta alamat rumah Rico, dan segera menuju ke sana.
Sesampainya
di rumah Rico..
Tok..
Tok.. Tok..
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
“Erika
? ngapain loe di sini ? Kok nangis gitu ?”
Erika
pun menarik tanganku dan mengajakku masuk ke rumah Rico.
“
Ini ada apaan sih ? Bikin gue bingung ?”
“Rico
di atas Nda” jawab Doni singkat.
Dengan
rasa penasaran yang sangat dalam aku pun menuju ke ruang atas. Di sana, ku
lihat Rico yang terbujur tak bernafas lagi. Dengan kain kafan yang menyelimuti
tubuhnya. Ya, Rico telah tiada.
“Rrriiicccoooo”
Tubuhku,
hatiku, perasaanku.. Aku benar-benar tak percaya dengan semua ini. Hilang..
Lemah.. Tak berdaya..
“
Sabar ya Nda.. Sabar.. Ikhlasin kepergian Rico.. Biar Rico tenang bersama kedua
orang tuanya.” Jelas Erika seraya memegang bahuku.
“Ha
? Ja.. di.. ?” ungkapku terbata-bata.
Aku
tak bisa menahan air mata. Begitu juga Erika.
“
Rico mengidap tumor di otaknya dan itu pun baru di ketahui akhir-akhir ini.
Bahkan penyakit Rico sudah stadium akhir. Dan para dokter angkat tangan dengan
hal itu.”
“Kenapa
loe baru cerita sekarang Don ?”
“Gue
gak boleh ceritain ini semua ke elo. Rico gak mau loe sedih. Dan Rico..”
“Dan
Rico apa Don ?”
“Dan
Rico nyuruh gue buat chattingin loe setiap hari. Gue juga di suruh smsin loe
setiap hari, tapi gue gak mau Nda, gue gak tega sama loe dan Rico. Akhirnya gue
hanya bisa bantu buat nge-chat loe lewat facebook. Terakhir Rico sms loe,
itulah terakhir kalinya dia bisa bicara dan bergerak. Setelah itu, dia sering
diam mandangin foto loe. Hingga akhirnya, hari inilah Tuhan menginginkan Rico
kembali.”
Keesokan
harinya..
Ketika
di kampus, aku selalu pergi ke taman bunga untuk mengenang masa-masa indahku
bersama Rico.
“ALCo
and CoLA forever” bisikku lirih.

Komentar
Posting Komentar